Refleksi 11 Tahun Erupsi Merapi, Kalurahan Wukirsari Kapanewon Cangkringan

Administrator 05 November 2021 10:50:52 WIB

Kalurahan Wukirsari, 05 November 2021

 

Sebelas tahun yang lalu Gunung Merapi mengalami erupsi terbesar dalam 100 tahun terakhir, letusan terbesar terjadi pada hari Jum’at, 5 November 2010. Tidak hanya suara gemuruh dan getaran yang dirasakan masyarakat di lereng merapi, tetapi Merapi juga mengeluarkan material seperti abu, batu, kerikil juga pasir. Tidak tanggung-tanggung jarak luncur erupsi pun sekitar 20 kilometer ke arah sungai Gendol.

Kejadian tersebut mengakibatkan korban jiwa yang tidak sedikit, ternak mati dan juga puluhan ribu orang mengungsi. Kerugian besar pun dirasakan di berbagai wilayah seperti Sleman, Magelang, Klaten, dan Boyolali.

Erupsi Merapi 2010 menjadi sejarah baru bagi Pemerintah Kalurahan Wukirsari, setidaknya ada 4 padukuhan yang terkena imbas dari kejadian tersebut, yaitu Padukuhan Gondang, Padukuhan Ngepringan, Padukuhan Gungan dan Padukuhan Cakran.

Kerusakan lahan akibat sapuan awan panas di Kalurahan Wukirsari seluas 6,78 km2 untuk kerusakan tinggi yang mencapai persentase sebesar 16,46 %, dan seluas 9,02 km2 untuk lahan rusak sedang atau sekitar 21,88 % dan sebesar 0,27 km2 untuk lahan rusak rendah atau sekitar 0,66 % serta luas lahan yang tidak rusak sekitar 25,14 km2 atau sekitar 61,01%. Sedangkan jumlah rumah yang rusak di Padukuhan Gungan  157 rumah, Padukuhan Cakran 34 rumah, Padukuhan Ngepringan 107rumah dan Padukuhan Gondang 43 rumah.

Ribuan pengungsi dari Kalurahan Kepuharjo dan sebagian wilayah Wukirsari ditampung di aula Kalurahan Wukirsari Kapanewon Cangkringan. Pengungsi sudah sejak bulan Oktober 2010 mulai menempati aula Kalurahan Wukirsari karena barak pengungsian Kalurahan Kepuharjo sudah tidak mampu lagi menampung dan setelah radius zona bahaya di perluas warga pun mulai berpindah ke tempat pengungsian yang lebih jauh lagi.

Tidak hanya sampai disitu, Warga yang terdampak erupsi pun harus bersedia untuk relokasi atau berpindah dari tempat tinggal mereka yang terdampak ke tempat yang lebih aman. Pemerintah Kalurahan pun menyiapkan tempat untuk pembangunan shelter yang dilanjut dengan membangun hunian tetap (Huntap) untuk warga Wukirsari yang tempat tinggalnya terkena erupsi. Atas kerjasama dari berbagai pihak dan partisipasi masyarakat maka proses relokasi berjalan lancar.

Sebagai desa penyangga, fasilitas dan perlengkapan dipersiapkan oleh Pemerintah Kalurahan Wukirsari. Barak-barak pengungsian mulai dibangun di beberapa titik yaitu Barak Pengungsian Brayut dan Barak Pengungsian Kiyaran, lalu tempat-tempat relokasi untuk ternak juga di sediakan di lapangan Watuadeg dan lapangan Jabalkat.

“Sebagai Desa Siaga, Wukirsari terus meningkatkan kapasitas sumberdaya manusia untuk menghadapi bencana kedepan khususnya Lembaga-lembaga Desa” Terang Carik Wukirsari H. Ruswantoro, SE., M. IP. Beliau juga menerangkan selain peningkatan kapasitas, sebagai Desa Siaga maka perlu peningkatan dalam hal perlengkapan dan fasilitas pendukung serta pemetaan wilayah rawan bencana di wilayah Wukirsari karena ancaman bencana tidak hanya Erupsi Merapi tetapi juga bencana alam yang lainnya, bencana non alam seperti pandemi covid-19 serta bencana sosial.

Meskipun sebagian wilayahnya terdampak Erupsi, Pemerintah Kalurahan Wukirsari sudah sejak awal terlibat dalam penanganan bencana erupsi 2010. Dengan mengerahkan seluruh Kelembagaan Kalurahan seperti Karang Taruna dan Linmas, Relawan dan Pihak Terkait untuk membantu mengurusi pengungsi yang semakin banyak berdatangan.

Dengan pengalaman tersebut Pemerintah Kalurahan Wukirsari tumbuh menjadi Kalurahan yang memiliki kemampuan mandiri untuk beradaptasi dan menghadapi ancaman bencana, serta dapat segera memulihkan diri dari dampak bencana. Karena posisinya sebagai desa penyangga namun juga memiliki potensi bencana, Wukirsari mampu mengorganisir sumber daya masyarakat untuk mengurangi kerentanan dan sekaligus meningkatkan kapasitas demi mengurangi risiko bencana. Kemampuan ini diwujudkan dalam perencanaan pembangunan yang mengandung upaya-upaya pencegahan, kesiapsiagaan, pengurangan risiko bencana dan peningkatan kapasitas untuk pemulihan pasca keadaan darurat.

 

Belum ada komentar atas artikel ini, silakan tuliskan dalam formulir berikut ini

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Komentar