Jahe Bubuk Mesem "Merapi Sembada" Bukti Kebangkitan Pasca Erupsi Warga Huntap Dongkelsari

Administrator 02 Desember 2021 10:27:23 WIB

Erupsi Merapi 2010 tidak selalu bercerita tentang kesedihan, ada juga kisah-kisah yang menuai hikmah dari bencana tersebut. Salah satunya, cerita kebangkitan warga RT 02 Dusun Srodokan, Huntap Dongkelsari, Kalurahan Wukirsari, Kapanewon Cangkringan yang memproduksi jahe bubuk untuk membantu perekonomian keluarga dan juga untuk kepentingan warganya.

Pasca bencana erupsi, warga Srodokan pindah dari dusun yang lama ke Hunian Tetap (Huntap) Dongkelsari karena tempat tinggal mereka terkena lava pijar Gunung Merapi. Huntap yang menyerupai perumahan mengharuskan warga beradaptasi di tempat tinggal yang baru tersebut. Warga yang dulu bisa mendapatkan air gratis dari sumur mereka kini setiap bulan harus membayar iuran air, iuran sampah dan lain-lain. Belum lagi fasilitas umum yang harus dirawat dan diganti secara berkala.

“Perawatan Huntap memerlukan dana yang tidak sedikit, untuk itu kita perlu pemasukan dana untuk perawatan Huntap khususnya wilayah RT, salah satunya dengan mempunyai usaha lingkup RT” kata Anwar Shidqi Ketua RT02 Dusun Srodokan.

Produksi Jahe Bubuk tersebut tak lepas dari inisiatif ibu-ibu yang ingin mengisi waktu luang mereka dengan hal yang bermanfaat dan juga memberikan nilai tambah secara ekonomi. Hal ini tentunya juga didukung oleh Ketua RT dan Dukuh setempat yang selalu mensupport warganya.

“Produksi Jahe Bubuk sudah dimulai dari beberapa tahun yang lalu dan sekarang kita sudah mempunyai Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SPP-PIRT)” imbuh Anwar.

Selain Jahe bubuk, Anwar berharap nantinya ada perkembangan dan merambah ke produk yang lain. Saat ini beliau sudah merencanakan untuk membuat koperasi tingkat dusun sebagai wadah pengusaha kecil di Padukuhan Gungan. Dari koperasi itu diharapkan nantinya bisa membantu pemasaran dan ada pemasukan untuk biaya perawatan Hunian tetap (Huntap) tempat tinggal mereka.

“Bahan baku masih memanfaatkan hasil tanaman jahe dari warga sekitar, namun ketika dirasa kurang, bahan baku juga dibeli dari pasar tradisional” ungkapnya.

Proses produksi masih menggunakan peralatan manual namun tetap menjaga kualitas terutama rasa pedas jahe khas lereng Merapi. Ibu-ibu pun mulai ber-eksperimen ke olahan lain seperti Wedang Uwuh, Kencur Bubuk dan lain-lain, namun belum di pasarkan karena menunggu komposisi resep yang tepat dan perhitungan biaya produksi.

Jahe bubuk tersebut dijual dengan merek "Mesem" atau “Merapi Sembada” yang pemasaran produknya melalui daring, dan dibantu para reseller dengan harga Rp 15.000 sampai Rp 25.000 per kemasan. Selain itu Jahe Bubuk Mesem telah dikirim kepada pelanggannya di luar kota termasuk beberapa toko di Bogor. Jahe Bubuk Mesem juga telah menjalin kerja sama dengan sejumlah toko di wilayah Cangkringan.

Belum ada komentar atas artikel ini, silakan tuliskan dalam formulir berikut ini

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Komentar