Menurut Bapak Slamet selaku Kepala Dusun Cancangan, upacara wiwit merupakan ritus sebagai bentuk syukur para petani terhadap Tuhan atas panen berlimpah yang didapatkan. Wiwit yang berarti mulai, oleh karena itu dimaknai untuk menghargai bumi sebagai sedulur sikep (saudara manusia), dan Dewi Sri yang dipercaya menumbuhkan padi sebelum panen. Selain hal itu, upacara ini juga dimaknai sebagai media “srawung” (kebersamaan). Oleh sebab itu, bentuk pemenuhan dana untuk pelaksanaan kegiatan adalah dana kolektif (iuran anggota kelompok tani). Ditambah, terkadang beberapa dari mereka masih menyumbang makanan. Upacara ini diawali dengan berkumpulnya warga, dan dimulai oleh Mbah Kaum dengan doa-doa. Dilanjutkan memanen padi, dan diakhiri makan bersama dengan hidangan tradisional.
Sejarah
Menurut Arthadiputra, upacara ini diawali dengan para warga dusun yang berkumpul di kawasan persawahan yang telah siap panen. Mereka berkumpul, duduk diatas tikar dengan menggunakan baju adat jawa (pada umumnya blangkon untuk pria, atasan surjan/kebaya, dan bawahan jarik). Sementara ada sedikit informasi berbeda yang didapat dari Bapak Slamet Kepala Dusun Cancangan, menyatakan bahwa para warga anggota kelompok tani ini berkumpul hanya menggunakan “baju sawah” seperti biasanya, tidak menggunakan baju adat. Menurut Pak Slamet prosesi dimulai pukul 07.00 WIB. Terkait durasi kegiatan paling lama adalah dua jam, biasanya satu setengah jam telah usai. Prosesinya dipimpin oleh tetua atau Mbah Kaum yang mengawali dengan doa-doa. Pak Slamet memaparkan bahwa Mbah Kaum juga akan menaruh sedikit bagian makanan yang telah disiapkan warga di setiap pojok lokasi upacara. Sementara itu, perlengkapan yang digunakan pada prosesi wiwitan yakni kendi berisi air, pulut, tembakau, bunga-bunga seperti mawar dan kebak, ani-ani (alat untuk memotong padi), kemenyan dan kain jarik.
Dilanjutkan dengan memotong padi yang siap panen. Menurut Mbah Mbono, setelah padi siap panen dipotong akan dibungkus menggunakan daun pisang yang dianyam. Setelah itu baru dibawa dengan cara digendong menggunakan jarik (Arthadiputra, 2019). Setelah selesai memanen sebelum pulang, diakhiri dengan makan bersama, berupa nasi gurih, ayam kampung masak ingkung, megono (berbahan dasar nangka), tempe dan tahu bacem, sayur trancam, kerupuk, rempeyek, telur rebus, beberapa jajanan pasar seperti pulut dan buah-buahan seperti pisang dan salak. Setiap peralatan dan hidangan yang disajikan memiliki maknanya tersendiri. Dikatakan oleh Mbah Mbono, bahwa wangi bunga mawar melambangkan kebaikan, pulut (perekat) melambangkan kedekatan warga, dan kebak melambangkan panen padi yang melimpah.
Upacara wiwitan ini diikuti oleh bapak-bapak dan ibu-ibu, serta beberapa pemuda. Untuk usia dini atau anak-anak memang belum dilibatkan dalam rangkaian upacara wiwit. Di Dusun Cancangan sendiri jumlah partisipannya biasanya mencapai lebih dari 30 orang.Upacara ini telah dilaksanakan sejak lama, Pak Slamet mengatakan bahkan dirinya yang kini telah berusia 58 tahun tidak mengetahui awal mulanya tahun berapa. Menurut Pak Slamet, sebelum wafat ayahnya sendiri dulunya merupakan Mbah Kaum Dusun Cancangan, dan selalu memimpin jalannya rangkaian upacara wiwit. Saat ini upacara wiwit masih rutin dilaksanakan. Tercatat terakhir pada tahun 2021, diadakan upacara wiwit di Dusun Cancangan dengan dihadiri oleh Sekretaris Kecamatan Panewu Anom.
Corak dari masyarakat agraris di Jawa pada dasarnya berimplikasi pada munculnya upacara adat atau ritus yang sesuai dengan ranah tersebut. Jika dilihat dari wujudnya, upacara wiwit merupakan bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas hasil yang diberikan melalui hasil panen. Dari karakter upacara tersebut, maka dapat dikatakan bahwa sifatnya pun masih memiliki kesakralan. Upacara wiwit juga merupakan wujud dari pembelajaran masyarakat Jawa terhadap alam yang sejatinya menjadi subjek utama dalam mendukung keberlangsungan hidup mereka. Bentuk rasa syukur ini tidak sekadar menunjukkan adanya kekhasan dari wilayah tersebut, namun lebih kepada upaya manusia untuk terus selalu memaknai alam sebagai “ibu” dari mereka yang memberikan segala manfaat dari tanah atau bumi yang dipijak.
